Rival
melangkah santai di koridor sekolah lamanya. Tak banyak yang berubah, pikirnya.
Kakinya menuntunnya masuk ke dalam sebuah kelas. Kelas yang ia
tempati 7 tahun yang lalu. Bangku paling depan, barisan kedua dari kiri adalah
tempat duduknya.
Masih dengan kursi yang sama dengan coretan nama ‘something’, ia duduk disana,
berpura-pura bersikap seolah ia adalah Rival
Andriawan siswa SMA tahun ketiga.
Tanpa ada niatan tertentu, Rival berjalan menuju sebuah bangku disudut kelas. Seingatnya, dulu
bangku itu ditempati seorang gadis pendiam, berkacamata tebal, dengan rambut
panjang. Gadis yang selalu terlihat gugup, terlebih lagi saat berbicara
dengannya.
Di permukaan meja berwarna putih itu, terdapat sebuah celah,
seperti bekas goresan—tapi bukan, juga merupakan celah kecil yang hanya cukup
untuk selembar atau dua lembar kertas.
Ya, seseorang telah menyelipkan selembar kertas disana. Entah
sengaja atau tidak. Kertas itu tak begitu kentara hingga tak akan ada yang
menyadarinya kecuali benar-benar diteliti. Seperti Rival.
Rival merasa penasaran dengan
kertas usang itu. Diambilnya dengan susah payah kertas itu dari celah yang
sebegitu kecilnya.
Setelah usaha yang cukup keras, kertas itu berhasil dikeluarkan.
Kertas yang sudah sangat usang dan telihat rapuh sampai rasanya akan langsung
sobek kalau saja Rival
tak membuka lipatannya dengan hati-hati.
Ini surat tentang cintaku.
Saat melihat tulisan di baris pertama itu, jujur, Rival tak begitu tertarik untuk
membacanya lebih lanjut. Tapi.. entahlah. Kali ini ia rasa ia akan tetap
membacanya.
‘Aku selalu memikirkan mengapa aku harus
menyukainya. Saat pertama melihatnya, tanpa tahu bagaimana sifat atau
asal-usulnya, aku berani mengakui, aku jatuh hati padanya. Memang aku tak
pernah mengakui secara lisan dan langsung, karena kupikir tak penting apa ia
tahu atau tidak.
Hari itu, dalam perjalanan setelah pulang
sekolah, ditengah jalan sempit yang sepi, angin berhembus menerpa wajahku. Saat
itu aku berpikir, mungkin aku bisa meminta sesuatu pada Tuhan lewat angin ini.
Karena itu, aku mengangkat wajahku.
Menengadahkan kepala, dan berucap dalam hati sambil tersenyum, “Lewat senyum
ini, tolong sampaikan padanya bahwa aku menyukainya.”, berharap angin akan
membawa doaku dan mengabulkannya.
Semakin lama, aku tak tahu mengapa rasaku
padanya semakin dalam. Padahal kalau mengingat bagaimana popularitasnya di
sekolah, aku sama sekali tak pantas menyukainya.
Bahkan saat laki-laki itu pergi selama
beberapa hari hingga aku tak bisa melihat wajahnya, aku merasa aku mulai
merindukannya.
Di sudut lorong lantai paling atas disekolah,
aku berdiri sendirian di balkon. Angin sepoi-sepoi berhembus, menyapaku, seolah
menanyakan apa permintaanku kali ini. Dan aku tersenyum, memejamkan mata, dan
berbicara pada angin dalam hati, “Lewat senyum ini, tolong sampaikan padanya
bahwa aku merindukannya.”
Angin itu berbalik arah, seakan mereka
berangkat untuk membawa pesanku. Haha, aku merasa bodoh jika mengingat diriku
yang suka menganggap semua yang tak hidup menjadi hidup.
Hari ini, aku menulis surat untuk angin, juga
untuk bagian dari alam yang lain serta Tuhan, yang pernah mendengar
permintaan-permintaanku. Di hari kelulusan ini, di meja ini, di kelas ini.
Setelah resmi lulus, laki-laki itu akan pindah
ke luar negeri. Itu membuatku takut dan marah sekaligus. Takut aku akan merasa
terpuruk karena terlalu merindukannya, dan marah pada diriku sendiri karena
kebodohanku dengan tidak pernah menyatakan perasaan ini. Aku tak tahu kapan dia
akan kembali atau apakah dia akan kembali, jadi tak ada jaminan aku bisa
mengatakannya di lain waktu.
Dengan surat ini, tanpa harus berbicara pada
angin, aku meminta pada Tuhan, “Lewat surat ini, tolong sampaikan padanya bahwa
aku mencintainya. Aku mencintai laki-laki bernama "Rival Andriawan.”
Bandung, 7 Mei 2006
♥Ditulis oleh ‘Gadis Pojok Kelas’♥
P.S : Rival
sering memanggilku dengan ‘gadis di pojokan kelas’.
Rival terpaku ditempatnya.
Membeku, tak bergerak. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan
perasaannya saat ini.
Benarkah surat ini ditulis dikelas ini, dimeja ini, oleh gadis
berkecamata itu?
Ia sendiri tak bisa memastikan, tapi sesuatu telah meyakinkannya.
Dari nama ‘Rival Andriawan’
yang ditulis di surat itu, dari tahun yang tercantum—tepat 7 tahun yang lalu,
juga dari sebutan ‘Gadis Pojokan Kelas’ yang memang adalah julukannya untuk
gadis itu, jelas sekali ini ditulis oleh gadis yang sama.
Rival tak menyangkanya, kalau
kunjungannya ke sekolah ini akan memberikan sebuah barang kenangan untuk
disimpan. Ia juga punya hak atas surat ini, kan? Anggap saja ini surat cinta
untukku, batinnya.
“Hey.”
Rival tersentak. Begitu dia
menoleh, seseorang berwajah ramah dengan janggut tipis di dagunya yang sudah sangat
akrab bagi Rival
muncul dihadapannya.
“Pak guru!” Rival berseru girang melihat guru
kesayangannya itu.
Pak Guru tertawa melihat reaksi Rival. Ia merangkulnya sambil
bertanya, “Apa yang kau lakukan sendirian di pojok kelas seperti ini?”
Rival memandang kertas usang
yang ada ditangannya, dan berinisiatif menanyakan sesuatu daripada menjawab
pertanyaan barusan. “Maaf, apa pak guru ingat dengan gadis berkacamata dan pendiam yang sekelas
denganku? Dulu ia selalu duduk disini.” Ia menunjuk meja disampingnya.
“Oh? Hahaha,, tentu aku mengingatnya. Ada apa?”
“Mmm.. Ini.. Apa pak
guru tahu sesuatu tentangnya.. maksudku.. seperti pekerjaannya,
mungkin?” Kyuhyun bertanya, ragu apakah ia akan mendapat jawaban yang
memuaskan.
“Anak itu.. Ah, aku sendiri bingung dengannya. Jadi sarjana
dengan nilai terbaik, dia justru memutuskan untuk menjadi seorang guru.” kata Pak Guru, prihatin.
“Guru?”
“Ya, guru.” Pak Guru mengulangi. ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dia
mengajar disini.”
“Apa?! Disini?” Mata Rival membelalak. Pak Guru sampai bingung dengan reaksi berlebihan itu. “Dia masih disini
sekarang?” tanya Rival
dengan lebih tenang.
“Biasanya iya. Dia selalu pulang terakhir. Entah apa yang
dikerjakannya. Ia selalu berkutat dengan buku catatan dan pulpennya di meja
kerjanya, dan tak membiarkan seorangpun melihat isi buku catatannya. Aku hanya
takut ia punya kelainan, hahaha..” Pak
Guru bergurau diakhir perkataannya.
Dengan bersemangat, Rival berpamitan dengan sesopan mungkin pada Pak Guru, dan berlari menuju ruang
guru. Ia sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya begitu bersemangat.
~
Ya, benar. Masih dengan kacamata yang berbingkai hitam, gadis
itu duduk diam dikursinya, sibuk menulis sesuatu.
Perlahan, Rival
mendekati meja kerja itu, meja yang selalu berantakan. Sejak dulu meja gadis
itu selalu penuh dengan buku.
Selama beberapa detik, Rival berdiri tepat didepan meja gadis itu, memperhatikannya.
Sedangkan gadis itu sendiri tak bergeming, sama sekali tak menyadari
keberadaannya.
“Milikmu.” kata Rival sambil menyodorkan kertas yang sejak tadi digenggamnya ke
hadapan gadis itu.
Tak ada reaksi selama beberapa waktu. Gadis itu sudah
menghentikan kegiatannya, lalu terdiam. Seakan di slow motion,
dengan perlahan gadis itu mengangkat wajahnya, dan seketika ia merasa nafasnya
berhenti begitu melihat siapa yang berdiri didepannya.
Ia terus diam, terlalu shock hingga pulpen ditangannya langsung
terjatuh.
Rival tersenyum. Benar-benar
gadis yang sama. Matanya yang menerawang, juga ekspresi yang sulit ditebak.
Jari-jari yang gemetar itu, pelan-pelan meraih kertas usang yang
disodorkan padanya. Air matanya jatuh saat menatap kertas itu, walau hanya
setetes. Kertas itu mengingatkannya pada suasana perasaan cinta seorang gadis
SMA, dirinya. Bodohnya waktu itu ia lupa dimana ia meletakkan kertas itu.
Si gadis mengangkat wajahnya, menatap Rival tanpa mengucapkan apapun.
Ternyata laki-laki ini masih sanggup membuatnya merasa gugup. Padahal semenjak
menjadi guru, berdiri didepan ratusan orang pun ia tidak akan gugup.
Rival menepuk pelan bahu gadis itu
tanpa canggung, lalu berkata lembut penuh ketulusan, “Akhirnya kau berhasil
menyatakannya. Yah, walaupun sudah tujuh tahun berlalu.”
Kemudian gadis itu tersenyum—ditengah kegugupannya.
Ternyata cinta punya caranya sendiri agar dapat tersampaikan.
♥FIN♥
THANK YOU FOR READING
"ADINDA TRI LIYANTI"
FB : ADINDA DIINDA
TWITTER : ADINDALIYANTI
BBM :51CEC1F3
LINE : ADINDA
WA : 087755590468



Tidak ada komentar:
Posting Komentar