Kamis, 12 Februari 2015

ADINDA TRI LIYANTI (SURAT CINTA YANG HILANG)

 SURAT CINTA YANG HILANG
Rival melangkah santai di koridor sekolah lamanya. Tak banyak yang berubah, pikirnya.
Kakinya menuntunnya masuk ke dalam sebuah kelas. Kelas yang ia tempati 7 tahun yang lalu. Bangku paling depan, barisan kedua dari kiri adalah tempat duduknya.

Masih dengan kursi yang sama dengan coretan nama ‘something’, ia duduk disana, berpura-pura bersikap seolah ia adalah Rival Andriawan siswa SMA tahun ketiga.
Tanpa ada niatan tertentu, Rival berjalan menuju sebuah bangku disudut kelas. Seingatnya, dulu bangku itu ditempati seorang gadis pendiam, berkacamata tebal, dengan rambut panjang. Gadis yang selalu terlihat gugup, terlebih lagi saat berbicara dengannya.

Di permukaan meja berwarna putih itu, terdapat sebuah celah, seperti bekas goresan—tapi bukan, juga merupakan celah kecil yang hanya cukup untuk selembar atau dua lembar kertas.
Ya, seseorang telah menyelipkan selembar kertas disana. Entah sengaja atau tidak. Kertas itu tak begitu kentara hingga tak akan ada yang menyadarinya kecuali benar-benar diteliti. Seperti Rival.
Rival merasa penasaran dengan kertas usang itu. Diambilnya dengan susah payah kertas itu dari celah yang sebegitu kecilnya.
Setelah usaha yang cukup keras, kertas itu berhasil dikeluarkan. Kertas yang sudah sangat usang dan telihat rapuh sampai rasanya akan langsung sobek kalau saja Rival tak membuka lipatannya dengan hati-hati.

Ini surat tentang cintaku.

Saat melihat tulisan di baris pertama itu, jujur, Rival tak begitu tertarik untuk membacanya lebih lanjut. Tapi.. entahlah. Kali ini ia rasa ia akan tetap membacanya.

‘Aku selalu memikirkan mengapa aku harus menyukainya. Saat pertama melihatnya, tanpa tahu bagaimana sifat atau asal-usulnya, aku berani mengakui, aku jatuh hati padanya. Memang aku tak pernah mengakui secara lisan dan langsung, karena kupikir tak penting apa ia tahu atau tidak.

Hari itu, dalam perjalanan setelah pulang sekolah, ditengah jalan sempit yang sepi, angin berhembus menerpa wajahku. Saat itu aku berpikir, mungkin aku bisa meminta sesuatu pada Tuhan lewat angin ini.
Karena itu, aku mengangkat wajahku. Menengadahkan kepala, dan berucap dalam hati sambil tersenyum, “Lewat senyum ini, tolong sampaikan padanya bahwa aku menyukainya.”, berharap angin akan membawa doaku dan mengabulkannya.

Semakin lama, aku tak tahu mengapa rasaku padanya semakin dalam. Padahal kalau mengingat bagaimana popularitasnya di sekolah, aku sama sekali tak pantas menyukainya.
Bahkan saat laki-laki itu pergi selama beberapa hari hingga aku tak bisa melihat wajahnya, aku merasa aku mulai merindukannya.

Di sudut lorong lantai paling atas disekolah, aku berdiri sendirian di balkon. Angin sepoi-sepoi berhembus, menyapaku, seolah menanyakan apa permintaanku kali ini. Dan aku tersenyum, memejamkan mata, dan berbicara pada angin dalam hati, “Lewat senyum ini, tolong sampaikan padanya bahwa aku merindukannya.”
Angin itu berbalik arah, seakan mereka berangkat untuk membawa pesanku. Haha, aku merasa bodoh jika mengingat diriku yang suka menganggap semua yang tak hidup menjadi hidup.
Hari ini, aku menulis surat untuk angin, juga untuk bagian dari alam yang lain serta Tuhan, yang pernah mendengar permintaan-permintaanku. Di hari kelulusan ini, di meja ini, di kelas ini.
Setelah resmi lulus, laki-laki itu akan pindah ke luar negeri. Itu membuatku takut dan marah sekaligus. Takut aku akan merasa terpuruk karena terlalu merindukannya, dan marah pada diriku sendiri karena kebodohanku dengan tidak pernah menyatakan perasaan ini. Aku tak tahu kapan dia akan kembali atau apakah dia akan kembali, jadi tak ada jaminan aku bisa mengatakannya di lain waktu.
Dengan surat ini, tanpa harus berbicara pada angin, aku meminta pada Tuhan, “Lewat surat ini, tolong sampaikan padanya bahwa aku mencintainya. Aku mencintai laki-laki bernama "Rival Andriawan.”

Bandung, 7 Mei 2006
 ♥Ditulis oleh ‘Gadis Pojok Kelas’♥ 
P.S : Rival sering memanggilku dengan ‘gadis di pojokan kelas’.

Rival terpaku ditempatnya. Membeku, tak bergerak. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.
Benarkah surat ini ditulis dikelas ini, dimeja ini, oleh gadis berkecamata itu?
Ia sendiri tak bisa memastikan, tapi sesuatu telah meyakinkannya. Dari nama ‘Rival Andriawan’ yang ditulis di surat itu, dari tahun yang tercantum—tepat 7 tahun yang lalu, juga dari sebutan ‘Gadis Pojokan Kelas’ yang memang adalah julukannya untuk gadis itu, jelas sekali ini ditulis oleh gadis yang sama.
Rival tak menyangkanya, kalau kunjungannya ke sekolah ini akan memberikan sebuah barang kenangan untuk disimpan. Ia juga punya hak atas surat ini, kan? Anggap saja ini surat cinta untukku, batinnya.
“Hey.”
Rival tersentak. Begitu dia menoleh, seseorang berwajah ramah dengan janggut tipis di dagunya yang sudah sangat akrab bagi Rival muncul dihadapannya.
“Pak guru!” Rival berseru girang melihat guru kesayangannya itu.
Pak Guru tertawa melihat reaksi Rival. Ia merangkulnya sambil bertanya, “Apa yang kau lakukan sendirian di pojok kelas seperti ini?”
Rival memandang kertas usang yang ada ditangannya, dan berinisiatif menanyakan sesuatu daripada menjawab pertanyaan barusan. “Maaf, apa pak guru ingat dengan gadis berkacamata dan pendiam yang sekelas denganku? Dulu ia selalu duduk disini.” Ia menunjuk meja disampingnya.
“Oh? Hahaha,, tentu aku mengingatnya. Ada apa?”
“Mmm.. Ini.. Apa pak guru tahu sesuatu tentangnya.. maksudku.. seperti pekerjaannya, mungkin?” Kyuhyun bertanya, ragu apakah ia akan mendapat jawaban yang memuaskan.
“Anak itu.. Ah, aku sendiri bingung dengannya. Jadi sarjana dengan nilai terbaik, dia justru memutuskan untuk menjadi seorang guru.” kata Pak Guru, prihatin.
“Guru?”
“Ya, guru.” Pak Guru mengulangi. ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dia mengajar disini.”
“Apa?! Disini?” Mata Rival membelalak. Pak Guru sampai bingung dengan reaksi berlebihan itu. “Dia masih disini sekarang?” tanya Rival dengan lebih tenang.
“Biasanya iya. Dia selalu pulang terakhir. Entah apa yang dikerjakannya. Ia selalu berkutat dengan buku catatan dan pulpennya di meja kerjanya, dan tak membiarkan seorangpun melihat isi buku catatannya. Aku hanya takut ia punya kelainan, hahaha..” Pak Guru bergurau diakhir perkataannya.
Dengan bersemangat, Rival berpamitan dengan sesopan mungkin pada Pak Guru, dan berlari menuju ruang guru. Ia sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya begitu bersemangat.
~
Ya, benar. Masih dengan kacamata yang berbingkai hitam, gadis itu duduk diam dikursinya, sibuk menulis sesuatu.
Perlahan, Rival mendekati meja kerja itu, meja yang selalu berantakan. Sejak dulu meja gadis itu selalu penuh dengan buku.
Selama beberapa detik, Rival berdiri tepat didepan meja gadis itu, memperhatikannya. Sedangkan gadis itu sendiri tak bergeming, sama sekali tak menyadari keberadaannya.
“Milikmu.” kata Rival sambil menyodorkan kertas yang sejak tadi digenggamnya ke hadapan gadis itu.
Tak ada reaksi selama beberapa waktu. Gadis itu sudah menghentikan kegiatannya, lalu terdiam. Seakan di slow motion, dengan perlahan gadis itu mengangkat wajahnya, dan seketika ia merasa nafasnya berhenti begitu melihat siapa yang berdiri didepannya.
Ia terus diam, terlalu shock hingga pulpen ditangannya langsung terjatuh.
Rival tersenyum. Benar-benar gadis yang sama. Matanya yang menerawang, juga ekspresi yang sulit ditebak.
Jari-jari yang gemetar itu, pelan-pelan meraih kertas usang yang disodorkan padanya. Air matanya jatuh saat menatap kertas itu, walau hanya setetes. Kertas itu mengingatkannya pada suasana perasaan cinta seorang gadis SMA, dirinya. Bodohnya waktu itu ia lupa dimana ia meletakkan kertas itu.
Si gadis mengangkat wajahnya, menatap Rival tanpa mengucapkan apapun. Ternyata laki-laki ini masih sanggup membuatnya merasa gugup. Padahal semenjak menjadi guru, berdiri didepan ratusan orang pun ia tidak akan gugup.

Rival menepuk pelan bahu gadis itu tanpa canggung, lalu berkata lembut penuh ketulusan, “Akhirnya kau berhasil menyatakannya. Yah, walaupun sudah tujuh tahun berlalu.”
Kemudian gadis itu tersenyum—ditengah kegugupannya.
Ternyata cinta punya caranya sendiri agar dapat tersampaikan.



FIN




THANK YOU FOR READING
"ADINDA TRI LIYANTI"
FB : ADINDA DIINDA
TWITTER : ADINDALIYANTI
BBM :51CEC1F3
LINE : ADINDA
WA : 087755590468

Tidak ada komentar:

Posting Komentar